CRITICAL JURNAL REVIEW

 

Nama               : EVA ROSSANTI AZMI

Nim                 : 3003193086

Sem / Jur         : ( 1 ) / Pendidikan Islam ( A )

Mata Kuliah    : Metode Penelitian Pendidikan Islam

                       

 

DATA / IDENTITAS JURNAL

 

Nama Penulis              : Sukadari, Suyata, Shodiq A. Kuntoro

Judul Jurnal                 : Penelitian Etnografi Tentang Budaya Sekolah Dalam                                               Pendidikan Karakter Di Sekolah Dasar

Jenis Jurnal / Vol         : Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi                                          Volume 3, No 1, Juni 2015

Kata Kunci                   : Etnografi

Universitas                  : Universitas PGRI Yogyakarta, Universitas Negeri                                                    Yogyakarta,

Email                            : sodiq_azis@uny.ac.id

Halaman                        : (58 68)

Abstrak

 

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan: (1) pengembangan budaya Sekolah Dasar Negeri (SDN) Kasihan, Bantul dalam pembentukan karakter siswa, (2) pengintegrasian unsur penilaian pendidikan karakter dalam kegiatan sehari-hari di sekolah dasar secara utuh, (3) bentuk kegiatan siswa dalam pelaksanaan pendidikan karakter melalui budaya sekolah, dan (4) hubungan pergaulan antarwarga sekolah setelah mendapatkan pendidikan karakter melalui budaya sekolah.Metode penelitian yang digunakan adalah metode etnografik dengan pendekatan kualitatif, untuk memahami kehidupan masyarakat sekolah berdasarkan sudut pandang masyarakat sekolah yang bersangkutan. Subjek penelitian ini adalah siswa dan warga sekolah SD N Kasihan, Bantul. Sumber data penelitian adalah: (1) sumber tertulis, (2) sumber lisan, (3) artefak, (4) dokumen dan (5) rekaman. Teknik Pengumpulan datanya adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan sejak, sebelum, selama, dan sesudah penelitian dengan teknik deskriptif kualitatif. Hasil penelitian sebagai berikut. (1) Guru dan kepala sekolah SD N Kasihan Bantul telah memahami budaya sekolah dan pendidikan karakter. (2) Pelaksanaan pendidikan karakter melalui budaya sekolah dalam mengintegrasikan mata pelajaran dengan nilai yang terkandung dalam pendidikan karakter sudah berjalan dengan baik dan signifikan dengan perkembangan perilaku siswa. (3) Kegiatan siswa telah berjalan dengan baik; siswa dapat mengikuti kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler sesuai dengan bakat dan minatnya. (4) Hubungan pergaulan antarwarga sekolah berada dalam suasana kondusif dan harmonis.

RINGKASAN / DESKRIPSI JURNAL

 

a.       Pendahuluan

Pendidikan karakter memiliki peran yang strategis dalam membentuk pribadi manusia Indonesia yang mempunyai integritas ke Indonesia an. Pendidikan karakter dapat dilakukan melalui jalur lembaga pendidikan formal yaitu sekolah, juga melalui jalur in formal, yaitu keluarga dan masyarakat. Pendi dikan karakter diarahkan pada terbentuknya karakter dan peradaban bangsa yang bermar tabat sehingga mampu mencerdaskan bangsa dan sanggup berkompetisi pada tingkat global dengan bangsa bangsa lain, tanpa kehilangan kepribadian sebagai bangsa Indonesia yang berlandaskan Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945.

Pada Undang Undang Nomor 20 Ta hun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) dirumuskan fungsi dan tujuan pendidikan nasional yang harus digunakan dalam mengembangkan upaya pendidikan di Indonesia. Pasal 3 UU Sisdiknas menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi me ngembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Budaya sekolah berperan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, ber ilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang bertanggung jawab. Rumusan tujuan pendidikan nasional tersebut menjadi dasar dalam penanaman nilai budaya dalam rangka membentuk karakter anak didik yang akan menjadi generasi yang berkepri badian Indonesia.

Pendidikan di tingkat sekolah dasar pada hakikatnya merupakan dasar dalam pem bentukan karakter anak. Pelaksanaan pendi dikan karakter di sekolah dasar tersebut meru pakan vitalitas pendidikan yang selama ini telah dilaksanakan. Anak usia sekolah dasar sangat memerlukan perhatian dan penanganan secara serius dalam mengembangkan kepriba dian. Hal tersebut perlu dilakukan karena pada usia tersebut merupakan dasar untuk pertum buhan dan perkembangan karakter anak ke jenjang selanjutnya.

 

Karakter, menurut filosof kontem porer Michael Novak (Lickona, 1991, p.50) seperti berikut.

Character, observes contemporary philosopher Michael Novak, is “a compatible mix of all those virtues identified by religious traditions, lite rary stories, the sages, and persons of common sense down through histo ry”. No one, as Novak points out, has all the virtues, and everyone has some weaknesses. Persons of much admired character may differ considerably from one another.

Character so conceived has three interrelated parts: moral knowing, moral feeling, and moral behavior. Good character consists of knowing the good, desiring the good, and doing the good habits of the mind, habits of the heart, and habits of action. All three are necessary for leading a moral life; all three make up moral maturity. When we think about the kind of character we went for our children, it’s clear that we want them to be able to judge what is right, care deeply about what is right, and then do what they believe to be right even in the face of pressure from without and temptation from within.

Karakter menurut filosof Yunani Aristoteles, (Lickona, 1991, p.50) seperti berikut.

Good character as the life of right conduct (right conduct) in relation o other persons and in relation to oneself. Aristotle reminds us of what, in modern times, we are prone to forget: The virtuous life includes self oriented virtues (such as self control and moderation) as well as other oriented virtues (such as generosity and compassion), and the kinds of virtue are connected. We need to be in control of our selves our appetities, our passions to do right by others

Pengembangan nilai nilai dalam pen didikan karakter melalui budaya sekolah mencakup semua kegiatan yang dilakukan kepala sekolah, guru, konselor, tenaga admi nistrasi, dan peserta didik. Budaya sekolah adalah suasana kehidupan sekolah tempat anggota masyarakat sekolah saling berinteraksi. Interaksi yang terjadi meliputi antara peserta didik dengan sesamanya, kepala seko lah dengan guru, guru dengan guru, guru dengan siswa, konselor dengan siswa, pega wai administrasi dengan dengan siswa, guru, dan sesamanya. Interaksi tersebut terikat oleh berbagai aturan, norma, moral, serta etika bersama yang berlaku di suatu sekolah. Kepemimpinan, keteladanan, keramahan, toleransi, kerja keras, disiplin, kepedulian sosial, kepedulian lingkungan, rasa kebangsaan, tanggung jawab, dan rasa memiliki merupakan sebagian dari nilai-nilai yang dikembangkan dalam budaya Sekolah.

 

Proses pendidikan karakter melibat kan siswa secara aktif dalam semua kegiatan keseharian di sekolah. Dalam kaitan ini, kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidik an lain diharapkan mampu menerapkan prinsip Tut Wuri Handayani dalam setiap perilaku yang ditunjukkan peserta didik. Prinsip ini juga menyatakan bahwa proses pendidikan dilakukan dalam suasana belajar yang me nyenangkan dan tidak indoktrinatif.

Adapun dalam pengembangan budaya sekolah ada 6 aspek antara lain: (1) budaya moral spiritual, (2) budaya bersih rapi, (3) budaya cinta tanah air, (4) budaya setia ka wan, (5) budaya belajar, dan (6) budaya mutu. (Kemdiknas, 2011, p.8).

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian ini adalah kualitatif, yang dilaksanakan di lapangan (field re search). Menurut Danin (2007, p.6), penelitian kualitatif adalah pendekatan sistematis dan subjektif yang digunakan untuk menjelaskan pengalaman hidup dan memberikan makna atasnya.

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan desain penelitian etnografi. Et nografi merupakan pekerjaan mendeskripsi kan suatu kebudayaan. Tujuan utamanya adalah untuk memahami suatu pandangan hidup dari sudut pandang penduduk asli.

Spradley (1979, p.5) mengatakan bahwa inti etnografi adalah upaya untuk memperhatikan makna makna tindakan dari kejadian yang menimpa orang yang ingin kita pahami. Iskandar (2008, p.208) mengatakan bahwa untuk memahami dan mendeskripsikan budaya dari perspektif ini, seorang peneliti harus memikirkan peristiwa peristiwa atau fenomena fenomena dengan cara berpikirnya. Seorang peneliti etnografi harus menerangkan perilaku manusia dengan menguraikan apa yang ia ketahui, yang membuat dirinya mam pu berperilaku sesuai dengan perilaku umum dari masyarakat yang diteliti.

Sumber data primer dalam penelitian ini adalah siswa, guru, kepala sekolah, sedangkan data sekunder antara lain bersumber pada komite sekolah dan tokoh masyarakat sekitar. Selain itu, juga digunakan dokumen. Data dikumpulkan dengan teknik observasi dan wawancara mendalam (depth interview) dan gabungan keduanya.

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Data dalam penelitian ini berupa deskripsi mendalam atas aktivitas subjek berdasarkan perspektif subjek, bukan peneliti. Peneliti melakukan refleksi dengan informan terhadap sikap, ucapan, dan tindak an ritual sehingga terjadi penafsiran inter subjektif. Hasil penafsiran ini kemudian di relasikan dengan kerangka teori yang telah dibangun untuk menemukan jawaban dari permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini. Untuk mengungkap permasalahn yang ada, digunakan teknik analisis kualitatif etnografi. Perfomance studies etnografi digunakan seba gai cara untuk menyajikan data secara me nyeluruh yang berkait dengan tindakan objek yang teliti.

Setelah data direduksi, alur selanjut nya adalah penyajian data (data display) (Miles dan Huberman, 2007, p.17). Men display data merupakan kegiatan mengum pulkan informasi serta menyusunnya sehingga dapat memberikan gambaran pola hubungan antardata. Hal ini memungkinkan peneliti untuk penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Dalam penelitian kualitatif, penyaji an data dapat disajikan dalam bentuk uraian singkat, gambar, hubungan antarkategori, dan sebagainya

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Sejak tahun ajaran 2010/2011, SD N Kasihan Bantul ditunjuk oleh Kemdiknas melalui Dinas Pendidikan Dasar Kabupaten Bantul sebagai sekolah rintisan pendididikan karakter tingkat sekolah dasar yang pertama kali diselenggarakan Kabupaten Bantul. Da lam hal ini, Sekolah Dasar Negeri Kasihan Bantul tidak pernah mengajukan sebagai se kolah rintisan. Pihak Dinas Pendidikan Dasar Kabupaten Bantul yang menunjuk Sekolah Dasar Negeri Kasihan Bantul sebagai sekolah rintisan pendidikan karakter.

Dalam rangka mengembangkan buda ya sekolah, SD N Kasihan mengembangkan budaya malu yang meliputi tujuh hal. Ketujuh budaya malu yang dikembangkan tersebut adalah (1) malu datang terlambat/pulang cepat, (2) malu melihat rekan sibuk melakukan aktivitas, (3) malu karena melanggar peratur an, (4) malu untuk berbuat salah, (5) malu karena belajar tidak berprestasi, (6) malu karena tugas tidak selesai tepat waktu, dan (7) malu karena tidak menjaga kebersihan kantor/sekolah.

Budaya sekolah di SD Kasihan Bantul yang menjadi kekhasan adalah karawitan. Karawitan di sekolah mengaktifkan unsur-unsur muatan lokal yang dimiliki sebagai po tensi yang harus dimanfaatkan sesuai situasi dan kondisi. Sekolah memiliki prioritas utama bagi tuntutan dasar atas karakter yang ingin diterapkan di lingkungannya.

Sebagai upaya untuk meningkatkan pemahaman tentang budaya sekolah dan pen didikan karakter untuk mewujudkan program yang telah direncanakan pemerintah adalah Kepala Sekolah mengikuti Diklat di pusat yaitu di Bogor dan Jakarta secara periodik untuk memberi bekal yang nanti berperan se bagai manager di sekolahnya.

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan di sekolah terlihat bahwa para siswa sudah melaksanakan pendidikan karakter dengan baik. Cara menilai dari hasil pelaksanaan pendidikan karakter yaitu melalui pengamatan yang secara terus menerus. Untuk menilai keberhasilan tentang karakter siswa, guru memberikan nilai dengan beberapa kategori antara lain: Belum Terlihat, yaitu peserta didik belum memperlihatkan tanda tanda peri laku yang dinyatakan pada indikator, Mulai Terlihat, yaitu sudah memperlihatkan tanda tanda perilaku yang dinyatakan pada indi kator, Mulai berkembang, yaitu perilaku siswa sudah menunjukkan adanya nilai karakter dan mengalami kemajuan, dan Membudaya, yaitu perilaku yang secara terus menerus menerap kan nilai nilai karakter secara konsisten.

Penerapan nilai nilai karakter ini sudah dilakukan sejak tahun pelajaran 2012/2013 di SD N Kasihan Bantul baik dalam pembelajaran di kelas maupun di luar kelas. Dalam program rintisan ini pendekatan yang dipilih dalam kegiatan pembelajaran dilakukan dengan metode PAKEM (Pembel ajaran Aktif Kreatif Menyenangkan). Program ini mendukung daya saing dan karakter bangsa yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan dan Pusat Kurikulum dengan tujuan untuk mencapai rencana Pembangunan Jangka Me nengah Nasional (RPJM) tahun 2010 2014.

Penerapan nilai karakter di SD N Kasihan Bantul dilakukan secara bertahap dise suaikan dengan kebutuhan dan keadaan sekolah. Hasil musyawarah dewan guru dengan kepala sekolah menetapkan nilai karakter tahap satu adalah: Nilai religius, nilai disiplin, nilai jujur, dan nilai peduli lingkungan (kebersihan). Sedangkan tahap dua adalah: nilai bertanggung jawab, nilai kreatif, nilai demo kratis, nilai cinta tanah air, Untuk tahap tiga baru direncanakan dan belum dilaksanakan.

Dengan penerapan nilai pendidikan karakter secara bertahap kelihatannya terkesan terpisah pisah, namun kenyataannya sudah mencakup semua nilai karakter. Sedangkan di SD N Kasihan Bantul kegiatan ekstrakurikuler bertujuan untuk menggali pengetahuan afektif

Pembahasan

Pemahaman tentang budaya sekolah sangat mempengaruhi perkembangan karakter siswa. Suasana sekolah adalah kualitas ling kungan fisik, psikologis dan lingkungan basis kultural sekolah, baik yang tampak pada lingkungan sekolah secara umum maupun lingkungan dalam kelas. Untuk membekali para siswa agar mampu melakukan filtrasi terhadap nilai nilai budaya baru yang kurang sesuai dengan masyarakat di lingkungannya maka SD N Kasihan Bantul membekali siswa dengan nilai nilai budaya tradisional dan Islami (bagi yang beragama Islam) seperti: Tempat Pendidikan Alquran (TPA), shalat berjamaah, dan budaya yang berakar di masyarakat melalui berbagai macam kegiatan ekstrakurikuler, baik di bidang seni tradisional, keagamaan, maupun bidang olahraga. Dengan upaya tersebut anak akan mampu menanamkan budaya sendiri dengan sadar, peduli dan mempertahankannya selaras dengan pendidikan karakter. Sikap ini kalau tidak ditanamkan sejak dini dikhawatirkan akan tergusur oleh budaya asing yang tidak sesuai dengan budaya sendiri.

Pendidikan yang berbasis kearifan lokal adalah merupakan terminologi yang diciptakan untuk mewujudkan kebijakan desentralisasi pendidikan yang menggunakan kekayaan sosial budaya lokal sebagai modal pengembangan kegiatan pendidikan.

 

Antara pendidikan dan budaya me rupakan dua hal yang tidak terpisahkan. Vygotsky (Kuntoro, 2012, p.7) berpandangan bahwa semua kegiatan manusia termasuk pendidikan mengambil tempat dalam konteks suatu budaya tertentu yang melibatkan banyak tingkat interaksi, saling memberi, menerima keyakinan, nilai, pengetahuan, keterampilan, hubungan terstruktur, dan sistem simbol setiap budaya memiliki alat berupa bahasa dan teknologi yang digunakan sebagai alat berinteraksi dengan lingkungan hidupnya dan dengan itu manusia belajar. Perubahan pada diri individu (kognitif, keterampilan, moral) tidak dapat dipisahkan dari pengaruh keyakinan, nilai, pengetahuan, atau keterampilan yang telah dimiliki oleh budaya masyarakatnya.

Peningkatan pemahaman tentang bu daya dan pendidikan karakter dapat disosia lisasikan melalui diklat, sarasehan, olahraga, seni, buku, layanan masyarakat, poster, film, atau berbagai media sosialissi lainnya.

Di lingkungan SD N Kasihan Bantul dalam kehidupan sehari hari perlu diterapkan totalitas pendidikan dengan mengandalkan keteladanan, penciptaan lingkungan, dan pem biasaan melalui berbagai tugas dan kegiatan. Sekolah Dasar Negeri Kasihan Bantul telah memberlakukan budaya budi pekerti dalam pergaulan sehari hari dan pergaulan siswa dan warga sekolah lainnya sebagai wujud penerapan pendidikan karakter melalui budaya sekolah. Dalam hal ini sekolah sudah menerapkan nilai nilai karakter (jujur, religius, disiplin, peduli lingkungan) periode 2010/ 2011 dan nilai nilai karakter (cinta tanah air, kreatif, demokratis, dan tanggung jawab) periode 2011/2012. Diharapkan untuk periode 2012/2013 SD N Kasihan Bantul sudah dapat melaksanakan atau mengimplementasikan 4 nilai karakter tambahan dengan baik (toleransi, rasa ingin tahu, menghargai prestasi, dan gemar membaca).

Keberhasilan program pengembangan budaya sekolah dalam pendidikan karakter di SD N Kasihan Bantul adalah sebagai berikut.

1.      Penataan lingkungan fisik sekolah melalui kerja sama yang baik antarwarga sekolah dengan orang tua/wali murid dan kerjasama dengan RT setempat dan juga para pedagang di lingkungan sekolah untuk mewujudkan lingkungan sekolah yang bersih, tapi dan indah.

2.      Pengembangan lingkungan psikolo gis sosial kultural di sekolah dengan adanya pendidikan karakter tampak sekali dampaknya yaitu perilaku sopan santun terhadap sesama dapat dilihat dan dirasakan dalam kehidupan sehari hari di lingkungan SD N Kasihan Bantul. Sikap dan perilaku saling asih, asah, asuh antarwarga sekolah ini membuktikan adanya kualitas penghayatan dan implemen tasi adanya pendidikan karakter.

3.      Terwujudnya kebersihan, kerapian dan keindahan antarkelas serta lingkungan sekolah dan tidak lagi ada corat coret ditembok adalah karena peserta didik disiplin dalam piket dan berperilaku sesuai dengan tata tertib sekolah. Semua ini terwujud juga karena dukungan dari semua warga sekolah.

4.      Terjaganya kerukunan hidup antar warga sekolah mampu meningkatkan ling kungan sekolah yang damai, tenang dan kondusif. Upacara yang menjadi kegiatan rutin di sekolah juga mampu menumbuhkan cinta tanah air, disiplin serta mampu meng hargai jasa para pahlawan, karena dalam upacara disebutkan sila sila dalam Pancasila, pembacaan pembukaan UUD 1945

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ANALISIS (KEKHASAN DAN KEMUTAKHIRAN, KELEBIHAN DAN KELEMAHAN)

 

a.       Kekhasan Jurnal

Setelah penyusun membaca isi jurnal, maka penyusunkan memberikan masukan bahwa kekhasan dalam jurnal ini adalah setiap teori dan pembahasan sangat sistematis dan sangat membantu para pembaca untuk memahami isi dari jurnal ini..

 

b.      Kemutakhiran Jurnal

Dari penjelasan dan pemaparan jurnal ini sudah termasuk mutakhir, dikarenakan semua isi, materi, pembahasan, hasil temuan dari jurnal ini sudah mempunyai kriteria dan kemutakhiran dalam penulisan jurnal.

 

c.       Kelebihan jurnal

Adapun kelebihan dalam jurnal ini yaitu :

1)      Judulnya sudah jelas dan mewakili dari isi teori dari jurnal ini

2)      Abstraknya sudah mewakili dari teori dan pembahasan yang di paparkan penulis

3)      Teori dan pembahasan yang di gunakan peneliti atau penyusun sudah jelas dan sistematis

4)      Tulisan dalam jurnalnya sudah menggunakan  EYD dalam penulisannya

5)      Referensi yang di gunakan dalam jurnal ini sudah sangat lengkap dan banyak sekali.

d.      Kelemahan jurnal

Adapun kelemahan dalam jurnal ini adalah :

1)      Jurnal ini tidak ada foot note, kalau bisa harus di pakai foot note

2)      Dalam pemaparan contoh masih kurang jelas, sehingga pembaca masih binggung dan dalam penulisannya masih kurang konsisten.

 

 

 

 

REKOMENDASI

Sebaiknya jurnal menggunakan EYD secara keseluruhan untuk seluruh isi jurnal agar hasil penelitian yang terdapat dalam jurnal mudah untuk dimengerti dan dianalisis. Selain itu, penulis juga seharusnya lebih memperhatikan penggunaan tanda baca untuk jurnal karena terdapat beberapa penggunaan tanda baca yang berlebihan. Dan juga lebih memperdalam materi yang mudah untuk dipahami pembaca.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KESIMPULAN

Pemahaman budaya sekolah dan pendidikan karakter menurut pandangan guru dan kepala sekolah di SD N Kasihan Bantul adalah sebagai berikut: Guru telah memahami budaya sekolah dan pendidikan karakter melalui diklat maupun pengimbasan/sosia-lisasi dari teman sejawat dan Kepala Sekolah

Pelaksanaan pendidikan karakter melalui budaya sekolah secara garis besar sudah berjalan baik dengan mengintegrasikan dalam mata pelajaran dengan nilai-nilai yang ter-kandung dalam pendidikan karakter. Pelaksa-nannya dilakukan secara bertahap sehingga belum bisa dilakukan secara komprehensif.

Pelaksanaan pendidikan karakter me-lalui budaya sekolah telah berjalan dengan baik. Terbukti para siswa dapat mengikuti kegiatan intra kurikuler maupun ekstra-kuri-kuler di sekolah sesuai bakat minat atau hobi dari masing-masing siswa. Nilai-nilai pen-didikan karakter dapat diaktualisasikan dan budaya sekolah dapat berkembang dengan mengutamakan nilai-nilai tradisi dan kearifan lokal.


DAFTAR PUSTAKA

Bogdan, Robert C. & Biklen, Sari Knopp. (1982). Qualitative research for edu-cation: An intoduction to theory and methods. Boston, Massachusetts: Allyn and Bacon.

Danin,Sudarwan, (2007). Menjadi peneliti kualitatif. Bandung : Pustaka Setia

Iskandar, (2008). Metodologi penelitian pen-didikan dan sosial. Jakarta: Gaung Persada Press

Kementerian Pendidikan Nasional, (2011). Panduan pembinaan pendidikan ka-rakter melalui pengembangan budaya di sekolah dasar. Jakarta: Kemdiknas.

Kuntoro, Sodiq A. (2012). Konsep pendidikan berbasis kearifan lokal sebagai dasar pembentuk karakter bangsa. Makalah disampaikan pada seminar Nasional dan pendidikan di Universitas Negeri Makasar 11 Juli 2012.

Lickona, Thomas. (1991). Educating for character. New York. Batam Books.

Miles, M. B, & Huberman, A. Michael. (2000). Analisis data kualitatif. Terje-mahan Tjetjep Rohendi Rohidi. Ja-karta: UI Press.

Sugiyono. (2006). Metode penelitian pendi-dikan: Pendekatan kuantitatif, kuali-tatif dan R & J. Bandung: Alfabeta.

 

Tilman, L.C. (2002). Culturally sensitive research approaches: An African Ame-rican Perspectif American Educa-tional Research Association 31, 3-12.

Tim  Peneliti PPs UNY. (2003). Pedoman pengembangan budaya sekolah. Kerja sama Direktorat Dikmenum Dep-diknas-PPs UNY.

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan dosen.

Uteach. (2009).  Understanding school cul-ture.  Artikel  Natural  Dapat  diakses melalui http/uteacutexas.Edu/90/wings/men-or.Development/school.culture.

Young Pay. (1990). Cultural foundation of education. Marietta: Merrill Publish-ing Company.

Zuchdi, Darmiyati dkk, (2011).Model pendi-dikan karakter terintegrasi. Yogya-karta: UNY Press

 

Komentar